“Karena Birokrasi… Bukanlah Mempersulit, tapi Melayani Bukan Menghalangi, tapi Memfasilitasi Bukan Mencari Uang Pribadi, tapi Mencari Ridho Ilahi ” di kutip dari sebuah blog. Memang benar adanya yang punya niatan di hati dan dilaksanakan pada saat implementasi. Tetapi pengalaman saya di lapangan sangat sulit sekali bahkan menjadi hal yang paling malas untuk dijalani.
Dari seberang pulau saya memulai langkah untuk bekerja. Di lapangan ini lah saya mulai mengenal birokrasi sesungguhnya di tingkat lembaga. Walapun kesulitan untuk memahaminya, paling tidak saya mulai belajar kata-kata birokrasi. Di tempat kuliah, saya mengenal birokrasi melalui teori-teori di buku yang cenderung tidak pahami betul apakah birokrasi itu. Tetapi dengan terjun melalui lembaga saya mulai mengenal kata birokrasi langsung.
Istilah birokrasi menjadi hal yang membingungkan bagi saya sebaga orang awam dan peduli akan kata biokrasi. Rentetan rantai yang panjang dalam birokrasi membuat bingung saya dalam mencerna kata birokrasi. Yang menjadi pertanyaan saya, bagaimana mencerna birokrasi agar mudah dipahami dan di telusur jejaknya. Kesulitan ini mungkin karena ketidak jelasan birokrasi itu menempatkan posisinya di sebuah rantai di lembaga. Sehingga kecenderungan birokrasi menjadi tidak jelas bentuknya. Mungkin bagi ahli birokrasi hal ini tidak membingungkan dan mudah menjelaskan. Tetapi bagi orang awam seperti saya, kata-kata birokrasi menjadi momok yang paling malas untuk menghadapinya. Jadi seperti apa birokrasi ini menjadi momok kita bersama?
Birokrasi merupakan mata rantai perjalanan menuju tujuan yang diharapkan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas… Birokrasi berasal dari kata bureaucracy (bahasa inggris bureau + cracy), diartikan sebagai suatu organisasi yang memiliki rantai komando dengan bentuk piramida, dimana lebih banyak orang berada ditingkat bawah dari pada tingkat atas, biasanya ditemui pada instansi yang sifatnya administratif maupun militer.
Pada rantai komando ini setiap posisi serta tanggung jawab kerjanya dideskripsikan dengan jelas dalam organigram. Organisasi ini pun memiliki aturan dan prosedur ketat sehingga cenderung kurang fleksibel. Ciri lainnya adalah biasanya terdapat banyak formulir yang harus dilengkapi dan pendelegasian wewenang harus dilakukan sesuai dengan hirarki kekuasaan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, birokrasi didefinisikan sebagai :
1.    Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang pada hirarki dan jenjang jabatan
2.    Cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban, serta menurut tata aturan (adat dan sebagainya) yang banyak liku-likunya dan sebagainya.
Definisi birokrasi ini mengalami revisi, dimana birokrasi selanjutnya didefinisikan sebagai
1.    Sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai bayaran yang tidak dipilih oleh rakyat, dan
2.    Cara pemerintahan yang sangat dikuasai oleh pegawai.
Berdasarkan definisi tersebut, pegawai atau karyawan dari birokrasi diperoleh dari penunjukan atau ditunjuk (appointed) dan bukan dipilih (elected).
Dari rujukan pengertian di atas…mari kita lihat permasalahan di lapangan. Permasalahan yang banyak kita jumpai ada level tingkat bawah. Ketidak jelasan mengenai prosedur dan aturan dalam birokrasi membuat bawahan yang kurang “pandai” menjadi tidak fleksibel dalam menerapkan pelayanannya. Mengapa hal ini dikaitkan dengan pelayanan. Karena pada umumnya birokrasi meletakkan dirinya pada proses melayani pihak lain untuk mendapatkan sesuatu. Kesulitan memangkas birokrasi menjadi hal biasa yang banyak dijumpai di tingkat bawahan. Karena pada umumnya bawahan hanya “sendiko dawuh” sama atasan. Hal ini lah yang menjadi booomerang mengapa pelayanan yang diberikan bawahan cenderung tidak memuaskan pihak lain, alasannya ya birokrasinya memang seperti itu.
Memangkas birokrasi menjadi impian semua pihak terutama pihak ketiga. Bagaimana kita bisa memangkasnya??? Mari kita liat…
Memangkas birokrasi di sini bukan mengeluarkan sejumlah unag untuk meringkat rantai birokrasi di sebuah lembaga, tetapi bagaimana mengefisienkan birokrasi di lembaga pelayanan. Ada pendapat????

Kebahagiaan menjadi hal yang sensitif bagi sebagian orang yang mejalani atau bahkan yang mengalami.Tetapi sebagian lagi hal itu menjadi sebuah kebutuhan hidup untuk dipenuhi. Kebahagiaan kadang menjadikan alasan sebagian orang itu menghalalkan berbagi cara untuk mencapainya. Akankah menjadi sebuah kenyataan jika “kebahagiaan” itu tercapai dengan cara yang di halalkan. Uang menjadisumber kebahagiaan bagi sebagian “people”, tetapi uang dianggap juga sebagai senjata yang mematikan kebahagiaan. Mari telusuri makanan kebahagiaan itu. Pertama, kebahagiaan yang bersumber uang. Money atau uang menjadi kebutuhan di dunia untuk mencapai kebahagiaan. Semua people di dunia bekerja keras baik halal dan belum tentu halal untuk mendapatkan money. Money menjadi tuntutan atau gaya hidup yang harus dipenuhi. Money menjadi menu utama di kehidupan sebagai alat mencapai kebahagiaan. Penelusuran lebih lanjut dari perbincangan banyak people uang tidak menjadi alat untuk mencapai kebahagiaan. Atau kebahgiaan yang dicapai dengan alat utamanya money hanya mendapatkan kebahagiaan “semu” . Semu seperti apa?? itu yang menjadi kebimbangan banyak people. Kedua, kabahagiaan di capai dengan mendekatkan diri people dengan penciptanya. Sebagian people menganggap hal inilah yang menjadi inspirator utama untuk mendapatkan arti kebahagiaan “sesungguhnya”. Sesungguhnya pun bagi sebagian people menjadi semu, karena menjadi pernyataan yang subyektif untuk di pahami oleh people awam. Kebahagiaan yang hakiki dari pemikiran orang awam mengartikannya bahwa sebenarnya kebahagiaan bisa diperoleh dengan merajut akan kebutuhan uang atau harta dengan menggabungkan kedekatan hati dengan penciptanya. Uang harta yang terpenuhi dan kedekatan dengan sang Pencipta menjadi sumber kebahagiaan yang menurut pemikiran orang awam akan lebih baik dibandingkan dengan salah satu paham di atas. Pengendalian kebutuhan akan uang atau harta diramu dengan kedekatan dengan sang Pencipta menjadi produk yang diidamkan banyak people. Sehingga jalan duniawi akan lebih baik dan untuk mencapai jalan akhirati menjadi lebih mantap. Akankah people bisa menyeimbangkan kedua paham di atas. Allahualam bi sawab.

Ndalu punika si JOLO kaliyan rencang-rencang ngawruhake maem ndalu kaping kalih. La si ahli “default”  nyuwun dhahar wonten warung kang sade masakan laut, bahasa indonesanipun seafood. Jarak saking gubug JOLO kiro-kiro lantun tebih mbok menawi wonten 1 kilometer. Namung kepripun melih, sampun dados kekaripun. Laku lampah dhaten warung mboten wonten alangipun kejobo teras ati-ati kaliyan motor kang sliwar sliwer kayo mabok mboten gadah kiro-kiro. Sak sampunipun wonten warung, JOLO kaliyan rencang-rencang pesen cumi asam manis setunggal porsi, cumi goreng tepung kaliyan capjay kuah, sekul 2 piring tambah jus nanas. Padahal sakderenge sampun dhahar mie sop khas NIas,gado tambah nasi. Weleh-weleh jatah ransum harianne pun telas kangge mborong “seafood”. Namung kenikmatan santap kuliner sing JOLO raosaken mboten senikmat menawi ngraosaken santap kuliner wonten siti kelairanipun. namun sampun dados lakonipun menawi rejeki punika sampun wonten ingkang ngatur. Namung menawi mboten kedah bersukur saged-saged JOLO kaliyan rencang-rencang mboten angsal pawilesanipun saking ingkang kagungan urip.

Categories

Archives

Top Posts

  • None
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.