Kebahagiaan menjadi hal yang sensitif bagi sebagian orang yang mejalani atau bahkan yang mengalami.Tetapi sebagian lagi hal itu menjadi sebuah kebutuhan hidup untuk dipenuhi. Kebahagiaan kadang menjadikan alasan sebagian orang itu menghalalkan berbagi cara untuk mencapainya. Akankah menjadi sebuah kenyataan jika “kebahagiaan” itu tercapai dengan cara yang di halalkan. Uang menjadisumber kebahagiaan bagi sebagian “people”, tetapi uang dianggap juga sebagai senjata yang mematikan kebahagiaan. Mari telusuri makanan kebahagiaan itu. Pertama, kebahagiaan yang bersumber uang. Money atau uang menjadi kebutuhan di dunia untuk mencapai kebahagiaan. Semua people di dunia bekerja keras baik halal dan belum tentu halal untuk mendapatkan money. Money menjadi tuntutan atau gaya hidup yang harus dipenuhi. Money menjadi menu utama di kehidupan sebagai alat mencapai kebahagiaan. Penelusuran lebih lanjut dari perbincangan banyak people uang tidak menjadi alat untuk mencapai kebahagiaan. Atau kebahgiaan yang dicapai dengan alat utamanya money hanya mendapatkan kebahagiaan “semu” . Semu seperti apa?? itu yang menjadi kebimbangan banyak people. Kedua, kabahagiaan di capai dengan mendekatkan diri people dengan penciptanya. Sebagian people menganggap hal inilah yang menjadi inspirator utama untuk mendapatkan arti kebahagiaan “sesungguhnya”. Sesungguhnya pun bagi sebagian people menjadi semu, karena menjadi pernyataan yang subyektif untuk di pahami oleh people awam. Kebahagiaan yang hakiki dari pemikiran orang awam mengartikannya bahwa sebenarnya kebahagiaan bisa diperoleh dengan merajut akan kebutuhan uang atau harta dengan menggabungkan kedekatan hati dengan penciptanya. Uang harta yang terpenuhi dan kedekatan dengan sang Pencipta menjadi sumber kebahagiaan yang menurut pemikiran orang awam akan lebih baik dibandingkan dengan salah satu paham di atas. Pengendalian kebutuhan akan uang atau harta diramu dengan kedekatan dengan sang Pencipta menjadi produk yang diidamkan banyak people. Sehingga jalan duniawi akan lebih baik dan untuk mencapai jalan akhirati menjadi lebih mantap. Akankah people bisa menyeimbangkan kedua paham di atas. Allahualam bi sawab.

Advertisement